"Hari ini sama persis dengan hari-hari sebelumnya di minggu ini, awan hitam mulai menyelimuti langit setelah dzuhur. Memaksa orang-orang di kota ini buat memacu kendaraannya lebih cepat dari biasanya, mungkin dengan harapan mereka bisa sampai tujuan dengan segera, berpacu dengan hujan yang sepertinya sedang bersiap buat meluncur turun.
Aku cuma bisa memerhatikan kegiatan tersebut dari balik jendela ruang kerjaku, di depan sebuah komputer lipat yang sedari pagi sudah menyala dan menantangku untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang memenuhi dirinya. Sesekali aku menatap keluar jendela untuk sekadar mengikuti perubahan yang terjadi, menghitung waktu sejak ku datang dan duduk di sini.
Ratusan kendaraan telah hilir mudik di seberang sana, meninggalkan jejak roda yang kemudian hilang tertimpa jejak lainnya, dan aku masih di sini, masih bermimpi untuk bisa menjadi pelakon jalanan tersebut, hilir mudik dengan kendaraan yang tak pernah peduli akan teriknya hari dan basahnya hujan.
Sesaat aku mengusap wajah dengan kedua tanganku, lalu kembali menatap layar komputer itu, terpaku di sana dengan telapak tangan kiriku menempel tepat di dahi yang berpeluh, sementara sebuah tetikus terus menerus berkelap-kelip saat ku menggerakannya dengan tangan kananku.
Aku sedang mencoba meraih mimpi, meniti jalan untuk mencapai sebuah fase dalam hidup yang orang-orang sebut "sukses", jalan berliku yang nampak tak ada ujung dan penghargaan untuk seorang pecundang kecil, jalan curam yang hanya pantas dibayar mahal dengan peluh dan sedikit harapan.
Dari waktu yang berputar, dari badan yang tidak begitu sehat, dari pekerjaan yang belum selesai, dan dari dia yang sedang marah.
Oh, nampaknya awan hitam itu kembali pergi, setidaknya masih memberi ruang untuk matahari, untuk mereka yang tidak ingin terburu-buru.
Asa demi asa terus terukir, rencana demi rencana terus tersusun rapi di dalam benak yang sudah lelah dengan kehidupan serba pas-pasan. Bersabarlah, karena kadang hidup tidak berjalan seperti apa yang kita rencanakan."
Aku cuma bisa memerhatikan kegiatan tersebut dari balik jendela ruang kerjaku, di depan sebuah komputer lipat yang sedari pagi sudah menyala dan menantangku untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang memenuhi dirinya. Sesekali aku menatap keluar jendela untuk sekadar mengikuti perubahan yang terjadi, menghitung waktu sejak ku datang dan duduk di sini.
Ratusan kendaraan telah hilir mudik di seberang sana, meninggalkan jejak roda yang kemudian hilang tertimpa jejak lainnya, dan aku masih di sini, masih bermimpi untuk bisa menjadi pelakon jalanan tersebut, hilir mudik dengan kendaraan yang tak pernah peduli akan teriknya hari dan basahnya hujan.
Sesaat aku mengusap wajah dengan kedua tanganku, lalu kembali menatap layar komputer itu, terpaku di sana dengan telapak tangan kiriku menempel tepat di dahi yang berpeluh, sementara sebuah tetikus terus menerus berkelap-kelip saat ku menggerakannya dengan tangan kananku.
Aku sedang mencoba meraih mimpi, meniti jalan untuk mencapai sebuah fase dalam hidup yang orang-orang sebut "sukses", jalan berliku yang nampak tak ada ujung dan penghargaan untuk seorang pecundang kecil, jalan curam yang hanya pantas dibayar mahal dengan peluh dan sedikit harapan.
Dari waktu yang berputar, dari badan yang tidak begitu sehat, dari pekerjaan yang belum selesai, dan dari dia yang sedang marah.
Oh, nampaknya awan hitam itu kembali pergi, setidaknya masih memberi ruang untuk matahari, untuk mereka yang tidak ingin terburu-buru.
Asa demi asa terus terukir, rencana demi rencana terus tersusun rapi di dalam benak yang sudah lelah dengan kehidupan serba pas-pasan. Bersabarlah, karena kadang hidup tidak berjalan seperti apa yang kita rencanakan."


